Minggu, 11 Januari 2015

Young Author?

Yeay, ini pengalaman pertama saya menulis Cerpen untuk tugas bahasa Indonesia. Karena teman-teman saya menyukainya maka saya memutuskan untuk mempublikasikannya (siapa tau laku hehehe). Okay, Happy reading guys! Kritik dan saran kalian sangat berarti buat saya :D





Kala Mendung Berkisah dengan Hujan






Inilah aku ,Keena Raina. Seorang gadis pengagum Langit. Pagi ini awan Mendung mengiringi langkahku menuju sekolah. Sepertinya sebentar lagi hujan, pikirku. Belakangan ini memang hujan turun sepanjang hari dan itu membuatku kesal. Ya, aku harus memakai mantel parasut menyebalkan itu. Mereka pikir aku lemah, sekali terkena hujan pasti langsung demam. Padahal aku sudah berusaha semampuku agar tidak kehujanan .

Pagi ini berbeda. Aku melihat Mendung bercengkerama dengan beberapa celah Cahaya Mentari. Mereka tertawa. Sempat kudengar Mendung berbicara. “Manusia itu bodoh, setiap turun hujan mereka pasti selalu teringat kenangan. Berada di ujung jendela dan merenungkan hal-hal yang telah menjadi hantu di sudut pikir mereka, tidak berguna”. Begitu pula dengan cahaya-cahaya itu, kata mereka “Ya, setiap aku datang mereka selalu menghujatku. Menginginkan datangnya hujan karena kami sering membuat beberapa orang pingsan. Mereka selalu mengoleskan benda aneh ke tubuh mereka untuk melindungi diri dariku”. Lucu juga, pikirku. Kemudian aku sampai di depan gerbang sekolah. Astaga! Aku terlambat rupanya.Segera aku berlari masuk ke dalam kelas dan untungnya guru belum masuk ke kelasku. Aku mendengar segumpal awan berbisik “Lihat dia, betapa bodohnya ia seperti orang linglung”. Akupun kesal, bisakah langit diam untuk sebentar saja?. Dan tanpa diperintah, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Beberapa siswa bersorak gembira dan beberapa ada yang termenung. Aku terkekeh. Mendung benar, hanya cinta dan kenangan yang ada di pikiran manusia saat hujan turun.

Seperti dugaanku, hujan tak berhenti sampai sore hari. Aku tak bisa pulang, dan kalaupun nekat pasti aku kehujanan dan sakit. Langit masih berwarna kelabu dan belum menunjukkan tanda-tanda akan cerah. Aku melihat Mendung belum mau berpindah dari tempatnya. Sedang menunggu sesuatu kah ia? Atau sedang merenung? Aku mencoba turun ke tengah lapangan. Hal yang bodoh karena hari masih hujan dan aku tahu aku tak boleh terkena hujan. Mendung tersontak kaget, namun ia tak memperlihatkannya. Aku memberanikan diri bertanya padanya “Mendung, mengapa setiap ada dirimu seakan-akan semua rasa yang ada di tempat kau berada menjadi kelam? Dan mengapa kau tertawakan kami saat hujan turun?”. Mendung terdiam, kemudian ia tertawa terbahak bahak dan tentu saja itu mengakibatkan bunyi petir yang menggelegar. Aku menjauh sedikit, takut tersambar. Kemudian ia berkata lembut. “Siapakah namamu ,hai manusia?”. Aku tak menjawab, yang kuinginkan hanyalah jawaban atas pertanyaanku dan sepertinya Mendung tahu itu. “Aku baru 3 kali mengelilingi dunia dan sudah ada yang menanyakan tentang hal ini” Dan dari situ aku tahu bahwa Mendung itu sebaya denganku. Lalu ia berkata lagi, “Jangan pernah meratap saat hujan, jangan pernah terkenang akan yang lalu saat hujan, yang perlu kau lakukan hanya menari dan bersenandung di bawah hujan”. Kemudian hujan berangsur-angsur berhenti. Apa-apaan ini? Mendung belum menjawab pertanyaanku! Cih, dasar tidak tahu diri, pergi begitu saja.

Aku pun bergegas pulang ke rumah selagi cerah kembali datang. Di tengah jalan, hujan kembali turun. Sial, pikirku. Kemudian Mendung itu datang lagi dan tertawa “Sedang apa kamu?”. Bodoh sekali, sudah tau ia melihatku sedang berjalan,huh. “Kamu harus menikmati hujan sesekali”.”Ya, aku sedang mencobanya sekarang” kataku sinis. “Ayolah, aku serius”. Akhirnya, aku pun berhenti,melepas tasku kemudian mengangkat tangan. Memang indah rasanya. Belum pernah aku merasa sebahagia ini di bawah hujan.Sedikit senyum mengembang di wajahku. Aku merasa damai. Jadi inikah hujan? Dimana semua orang meratapi kenangan yang salah? Namun aku disini dan berbahagia. Kurasa orang-orang di sekitarku turut merasakan hal yang sama. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang gelap menghampiriku, semakin dekat, semakin dekat dan semua berhenti.

Aku terbangun, di sebuah kamar asing. Ya ampun! Aku di rumah sakit. Bagaimana bisa? Lalu aku melihat kearah pintu, ada papan bertuliskan Keena Raina di sana .Tanteku ada di sana sedang berbicara dengan dokter. Aku tak ingat apa yang terjadi, yang kuingat hanya aku sedang merasakan ketenangan di bawah hujan. Kemudian aku melihat ke jendela. Petir menyambar- nyambar. Sepertinya Mendung sedikit khawatir. Aku memejamkan mata dan berbisik “Aku tak apa-apa” dan kemudian hujan tak lagi mengeluarkan petir menyeramkan. Tanteku masuk, dan duduk di kursi dekat tempat tidurku. “Apa yang kamu lakukan tadi? Seharusnya kamu langsung pulang dengan mantelmu itu” katanya dengan nada tinggi. Aku tertawa getir. Aku benci diperlakukan seperti ini, aku ingin pergi ke luar merasakan hal indah itu. Kepalaku sangat sakit, bagian itu sedikit menyakitkan. Bagian belakang kepalaku yang dulunya didiagnosa menderita berbagai macam penyakit dan ternyata dugaan para dokter keliru. Dan iti membuatku semakin  yakin bahwa aku tak seharusnya ada disini. Aku memiringkan kepalaku agar bisa menempatkan posisi nyaman. Tanteku bilang aku tak boleh bermain hujan lagi, barbahaya untukku katanya. Aku tak peduli. Toh aku bisa memakai payung atau mantel aneh itu. Sekedar tahu saja, mantel itu adalah peninggalan nenekku saat ia masih muda, dengan warna kuning yang terlalu cerah dan bulu serta motif bunga-bunga merah. Awalnya aku enggan memakainya, tapi karena dipaksa aku memakainya.

Tiga hari berlalu dengan membosankan.Ya, di kamar rumah sakit yang aneh ini tentunya. Aku masih terkulai lemas sejak hari itu. Untuk membunuh rasa bosanku itu, aku mengambil buku di atas meja. Jostein Gaarder penulisnya yang bercerita tentang Cecilia dan Malaikat Ariel yang mencoba untuk melihat dunia luar dan menyentuh Surga. Salah satu kutipannya berkata ‘Kita menangis saat ada hal yang menyedihkan. Namun terkadang kita juga menangis saat ada sesuatu yang indah terjadi. Ketika sesuatu terlihat lucu dan jelek,kita tertawa. Mungkin kita menangisi hal yang indah karena kita tahu hal itu tidak akan berakhir selamanya… ‘

Aku terbaring dengan buku di tanganku, sesosok laki-laki berjubah kelabu berada di ujung pintu kamarku. Ia memandangku dan tersenyum. Siapakah ia? Aku tak pernah melihatnya. Lalu ia mendekatiku dan bertanya, “Maukan kau pergi denganku? Sebentar saja”. Jantungku berdegup kencang. Mau dibawa kemana? Apa aku sebentar lagi akan mati? Tapi aku tak ingin pergi sekarang. Seperti mengetahui apa yang kupikirkan, orang itu berkata lagi, “Tidak, kamu masih tetap disini nanti, aku hanya akan mengajakmu berkeliling” “Baiklah, kalau begitu. Mau kemana kita?” .Ia tak menjawab dan akhirnya aku mengikutinya. Lorong di dekat kamarku menjadi semakin terang. Ternyata orang itu membawaku ke sebuah tempat dimana semua benda langit berkumpul. Aku mencari Mendung, dimanakah ia? Ada Awan,Hujan, ada kumpulan Cahaya Mentari yang waktu itu juga berbincang dengan Mendung, dan ada Bintang. Mereka begitu indah, namun Mendung tak ada. Aku sedikit kecewa. Kemudian, orang itu mengajakku mengarungi angkasa. Indah sekali dari dari atas sini. Aku bisa melihat gunung, laut, dan samudra. Kemudian kami terbang rendah ke suatu wilayah.Sepertinya aku mengenal tempat ini. Ya, ini di dekat rumahku. Aku melihat ada kepulan asap hitam dari dalam sana. Dan tiba-tiba kobaran api menyala. Aku panik, aku hampir saja meluncur turun kesana. Namun orang itu mencegahku. “Terlalu berbahaya” ,katanya. “Tapi keluargaku ada di dalam sana! Aku harus menolong mereka, atau bisakah kau memanggil hujan? Tolonglah!” Mataku mulai berkaca-kaca. Tapi ia hanya diam disana. Aku langsung meluncur ke bawah dan ia tak lagi bisa mencegahku. Aku melesat secepat yang aku bisa.

Lalu aku terbangun. Ini hanya mimpi. Aneh sekali. Siapa laki-laki itu? Ia hanya sedikit bicara. Dan aku kembali ingat, rumahku kebakaran! Aku langsung turun dari tempat tidur, aku hilang keseimbangan dan terjatuh. Aku berusaha sebisaku untuk kembali berdiri namun tak bisa. Bodoh! Kenapa aku selemah ini? Aku marah pada diriku ketika kemudian tanteku berlari masuk ke dalam kamar. “Apa yang kamu lakukan? Kamu mau kemana?”. Aku hanya termenung, lupa semua yang terjadi. Tanteku membopongku kembali ke tempat tidur dan aku masih diam.

Pintu kamarku terbuka. Ternyata Andre, kakak sepupuku yang datang. Bukankah tadi? Bagaimana dengan rumah? “Hei, bagaimana keadaanmu hari ini?” “Seperti yang kau lihat, darimana kau?” “Aku baru saja selesai sarapan di rumah, yang lainnya sedang sarapan dan harusnya kau ikut bersama kami hahaha”. Sarapan? Aku semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? “Apakah rumah baik-baik saja?” “Ya, seperti biasanya”. Kebingunganku ini semakin berakar setelah ia berkata begitu.
Hari ini aku diperbolehkan pulang ke rumah. Cuacanya cerah dan aku sedikit kecewa. Dimanakah Mendung? Ia tak terlihat sejak mimpi itu datang. Aku merindukannya. Dua hari yang kulalui setelah itu selalu cerah. Saat pagi datang , aku mencoba bertanya pada kumpulan Cahaya Mentari tentang keberadaan Mendung tersebut. “Ia adalah awan yang paling hebat yang pernah kami kenal, saat ini ia sedang mencapai hujannya makanya tak terlihat. Ia menyuruh kami menggantikannya sementara di musim ini. Jangan khawatir, ia pasti kembali”. Mencapai hujannya? Apa maksudnya? Dan aku kembali teringat pada laki-laki asing itu. Aku juga tak melihatnya lagi setelah mimpi itu berakhir.

Satu bulan berlalu dengan cepat. Tak terasa obat-obatan yang harus kuminum juga sudah habis. Artinya sekarang aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau tanpa merasa sakit lagi. Tetapi pantangan untuk bermain hujan-hujanan masih berlaku padaku dan itu menyebalkan. Ketika malam datang, aku naik ke atap rumahku. Tempat itu memang terbuka untuk melihat langit. Pamanku yang membuatkannya untukku. Malam ini semua bintang dapat kulihat dengan jelas. Gugusan Sirius, Orion dengan jelas kuterawang dengan teleskop peninggalan kakekku. Tiba-tiba suara gemuruh terdengar. Akankah hujan turun? Apa ini artinya Mendung telah kembali? Aku merasakan secercah harapan untuk bertemu Mendung hari ini. Udaranya panas, berarti Hujan tak turun dan itu artinya hanya Mendung yang datang. Benar saja, cahaya bintang mulai tersamarkan dan aku menunggu sesaat. “Kemana kamu selama ini? Bukankah kau harusnya datang setiap hari?” Mendung tak menjawab ,kemudian ia menghilang. Apa-apaan ini? Aku sangat merindukanmu dan kamu hanya datang sesaat? Kulihat lagi sesosok laki-laki di ujung atap. Laki-laki yang sama dalam mimpiku. Mengapa ia selalu datang saat mendung tak ada? Lagi-lagi ia mendekat dan aku makin bingung dengan semua ini. Makin dekat denganku , ia memandang wajahku lekat-lekat. Matanya berwarna biru,sangat indah dan menawan. Aku jadi  teringat kutipan puisi seorang penyair terkenal,

‘Selapis kelopak mata membatasi aku dan engkau, Setiap napas mendekatkan sekaligus menjauhkan kita, Kau membuatku putus asa dan mencinta pada saat yang sama’ .

            Ia membuyarkan lamunanku “Masa kau tak mengenalku? Kita selalu berbicara berdua” sahutnya. “ Siapa kamu? Kita tak pernah bertemu sebelumnya, bagaimana bisa aku mengenalmu  dan begitu dekat?” “ Kau tak tahu?” Aku menggeleng. “ Lalu bagaimana tentang orang-orang yang meratap saat hujan? Dan tentang sebuah kedatangan yang kelam? Tidakkah kamu ingat semua itu?” Mataku membulat. Aku tersontak kaget “ Mendung? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana dengan Langit, Hujan, dan juga kumpulan cahaya itu?” “Mereka semua adalah sahabatku, bukankah mereka telah mengatakan suatu hal tentang mencapai Hujan? Dan disinilah aku, bersamamu sekarang”. “Kau akan disini selamanya?” Mendung terdiam. “Aku belum menjawab pertanyaanmu itu, mengapa saat Mendung datang semuanya menjadi kelam? Semua orang berpikir sesuatu yang berbeda ketika awan menjadi kelabu. Mereka terbiasa akan sesuatu yang terang dan cerah. Kelabu adalah sesuatu yang tak sama dan itu membuat mereka menjadi kelam”. “Kau tak menjawab pertanyaanku barusan, apakah kau akan tetap disini?” “Tidak. Aku akan bersamamu sepanjang malam ini. Tetapi, mulai besok kau akan melihatku sebagai Mendung yang sesungguhnya. Kelam dan penuh perenungan bagi setiap orang” “Tapi kenapa? Kamu terlalu indah , Mendung. Jangan pergi, tolong” Suaraku mulai parau, aku bahagia, sangat bahagia malam ini. Tetapi mengapa hal seindah ini harus berakhir secepat ini. “Sesuatu  yang paling indah memang tak pernah datang untuk yang kedua kalinya, sayang”.Aku terdiam. Satu kecupan mendarat di bibirku, tak sadar air mataku ikut menetes. Menangisi keindahan yang memang akan berakhir ini. “Aku juga tak ingin pergi.Bersamamu adalah hal yang paling indah sepanjang hidupku. Aku tak akan melupakanmu meskipun aku kembali jadi Sang Kelabu diatas sana”. Hujan di pelupuk mataku semakin deras mengalir seraya aku memeluk Mendung dengan erat. Ku tak ingin melepaskannya. Aku ingin bersamanya, tapi itu tak mungkin. Dan malam itu, kami menghabiskan waktu bersama memandang para Sahabat yang bersinar malam itu. Bintang dan bulan. Aku terbaring dalam rengkuhannya.

Keesokan paginya, aku terbangun. Ternyata diriku masih ada di atas atap, namun Mendung telah pergi. Ia memang akan pergi. Rasa sepi kembali menggerogoti hatiku. Hampa seperti ini memang tidak menyenangkan. Mataku memandang langit untuk kesekian kalinya. Matahari belum menampakkan diri. Mendung ada disana. Ia menungguku terbangun. Aku memejamkan mataku dan tersenyum. Tak lama setelah itu, sepupuku datang dan membawakan sarapan. “Terima kasih” ujarku. Lalu ia berkata, “Kamu tak perlu menunggu Hujan untuk melihat Mendung. Aku membuat sesuatu di kamarmu”. Andre mengajakku turun segera setelah selesai sarapan. Ratusan stiker benda langit yang bisa berpendar dalam gelap! Aku berdecak kagum. “Terima kasih, Andre!”. Sekarang aku tahu Mendung akan selalu bersamaku. Sesuai namaku, Raina, Rain yang berarti Hujan. Takkan ada Hujan apabila tak ada Mendung. Tak akan lagi ratapan dan ingatan masa lalu saat hujan turun. Yang perlu kau lakukan hanyalah menikmati Hujanmu.


The End