Inilah
aku ,Keena Raina. Seorang gadis pengagum Langit. Pagi ini awan Mendung mengiringi
langkahku menuju sekolah. Sepertinya sebentar lagi hujan, pikirku. Belakangan
ini memang hujan turun sepanjang hari dan itu membuatku kesal. Ya, aku harus
memakai mantel parasut menyebalkan itu. Mereka pikir aku lemah, sekali terkena
hujan pasti langsung demam. Padahal aku sudah berusaha semampuku agar tidak
kehujanan .
Pagi
ini berbeda. Aku melihat Mendung bercengkerama dengan beberapa celah Cahaya Mentari.
Mereka tertawa. Sempat kudengar Mendung berbicara. “Manusia itu bodoh, setiap
turun hujan mereka pasti selalu teringat kenangan. Berada di ujung jendela dan
merenungkan hal-hal yang telah menjadi hantu di sudut pikir mereka, tidak
berguna”. Begitu pula dengan cahaya-cahaya itu, kata mereka “Ya, setiap aku
datang mereka selalu menghujatku. Menginginkan datangnya hujan karena kami
sering membuat beberapa orang pingsan. Mereka selalu mengoleskan benda aneh ke
tubuh mereka untuk melindungi diri dariku”. Lucu juga, pikirku. Kemudian aku
sampai di depan gerbang sekolah. Astaga! Aku terlambat rupanya.Segera aku
berlari masuk ke dalam kelas dan untungnya guru belum masuk ke kelasku. Aku
mendengar segumpal awan berbisik “Lihat dia, betapa bodohnya ia seperti orang
linglung”. Akupun kesal, bisakah langit diam untuk sebentar saja?. Dan tanpa
diperintah, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Beberapa siswa bersorak
gembira dan beberapa ada yang termenung. Aku terkekeh. Mendung benar, hanya
cinta dan kenangan yang ada di pikiran manusia saat hujan turun.
Seperti
dugaanku, hujan tak berhenti sampai sore hari. Aku tak bisa pulang, dan
kalaupun nekat pasti aku kehujanan dan sakit. Langit masih berwarna kelabu dan
belum menunjukkan tanda-tanda akan cerah. Aku melihat Mendung belum mau
berpindah dari tempatnya. Sedang menunggu sesuatu kah ia? Atau sedang merenung?
Aku mencoba turun ke tengah lapangan. Hal yang bodoh karena hari masih hujan
dan aku tahu aku tak boleh terkena hujan. Mendung tersontak kaget, namun ia tak
memperlihatkannya. Aku memberanikan diri bertanya padanya “Mendung, mengapa
setiap ada dirimu seakan-akan semua rasa yang ada di tempat kau berada menjadi
kelam? Dan mengapa kau tertawakan kami saat hujan turun?”. Mendung terdiam,
kemudian ia tertawa terbahak bahak dan tentu saja itu mengakibatkan bunyi petir
yang menggelegar. Aku menjauh sedikit, takut tersambar. Kemudian ia berkata
lembut. “Siapakah namamu ,hai manusia?”. Aku tak menjawab, yang kuinginkan
hanyalah jawaban atas pertanyaanku dan sepertinya Mendung tahu itu. “Aku baru 3
kali mengelilingi dunia dan sudah ada yang menanyakan tentang hal ini” Dan dari
situ aku tahu bahwa Mendung itu sebaya denganku. Lalu ia berkata lagi, “Jangan
pernah meratap saat hujan, jangan pernah terkenang akan yang lalu saat hujan,
yang perlu kau lakukan hanya menari dan bersenandung di bawah hujan”. Kemudian
hujan berangsur-angsur berhenti. Apa-apaan ini? Mendung belum menjawab
pertanyaanku! Cih, dasar tidak tahu diri, pergi begitu saja.
Aku
pun bergegas pulang ke rumah selagi cerah kembali datang. Di tengah jalan,
hujan kembali turun. Sial, pikirku. Kemudian Mendung itu datang lagi dan
tertawa “Sedang apa kamu?”. Bodoh sekali, sudah tau ia melihatku sedang
berjalan,huh. “Kamu harus menikmati hujan sesekali”.”Ya, aku sedang mencobanya
sekarang” kataku sinis. “Ayolah, aku serius”. Akhirnya, aku pun
berhenti,melepas tasku kemudian mengangkat tangan. Memang indah rasanya. Belum
pernah aku merasa sebahagia ini di bawah hujan.Sedikit senyum mengembang di
wajahku. Aku merasa damai. Jadi inikah hujan? Dimana semua orang meratapi
kenangan yang salah? Namun aku disini dan berbahagia. Kurasa orang-orang di
sekitarku turut merasakan hal yang sama. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang gelap
menghampiriku, semakin dekat, semakin dekat dan semua berhenti.
Aku
terbangun, di sebuah kamar asing. Ya ampun! Aku di rumah sakit. Bagaimana bisa?
Lalu aku melihat kearah pintu, ada papan bertuliskan Keena Raina di sana .Tanteku
ada di sana sedang berbicara dengan dokter. Aku tak ingat apa yang terjadi,
yang kuingat hanya aku sedang merasakan ketenangan di bawah hujan. Kemudian aku
melihat ke jendela. Petir menyambar- nyambar. Sepertinya Mendung sedikit
khawatir. Aku memejamkan mata dan berbisik “Aku tak apa-apa” dan kemudian hujan
tak lagi mengeluarkan petir menyeramkan. Tanteku masuk, dan duduk di kursi
dekat tempat tidurku. “Apa yang kamu lakukan tadi? Seharusnya kamu langsung
pulang dengan mantelmu itu” katanya dengan nada tinggi. Aku tertawa getir. Aku
benci diperlakukan seperti ini, aku ingin pergi ke luar merasakan hal indah
itu. Kepalaku sangat sakit, bagian itu sedikit menyakitkan. Bagian belakang
kepalaku yang dulunya didiagnosa menderita berbagai macam penyakit dan ternyata
dugaan para dokter keliru. Dan iti membuatku semakin yakin bahwa aku tak seharusnya ada disini. Aku
memiringkan kepalaku agar bisa menempatkan posisi nyaman. Tanteku bilang aku
tak boleh bermain hujan lagi, barbahaya untukku katanya. Aku tak peduli. Toh
aku bisa memakai payung atau mantel aneh itu. Sekedar tahu saja, mantel itu
adalah peninggalan nenekku saat ia masih muda, dengan warna kuning yang terlalu
cerah dan bulu serta motif bunga-bunga merah. Awalnya aku enggan memakainya, tapi
karena dipaksa aku memakainya.
Tiga
hari berlalu dengan membosankan.Ya, di kamar rumah sakit yang aneh ini
tentunya. Aku masih terkulai lemas sejak hari itu. Untuk membunuh rasa bosanku
itu, aku mengambil buku di atas meja. Jostein Gaarder penulisnya yang bercerita
tentang Cecilia dan Malaikat Ariel yang mencoba untuk melihat dunia luar dan
menyentuh Surga. Salah satu kutipannya berkata ‘Kita menangis saat ada hal yang menyedihkan. Namun terkadang kita juga menangis
saat ada sesuatu yang indah terjadi. Ketika sesuatu terlihat lucu dan
jelek,kita tertawa. Mungkin kita menangisi hal yang indah karena kita tahu hal
itu tidak akan berakhir selamanya… ‘
Aku
terbaring dengan buku di tanganku, sesosok laki-laki berjubah kelabu berada di
ujung pintu kamarku. Ia memandangku dan tersenyum. Siapakah ia? Aku tak pernah
melihatnya. Lalu ia mendekatiku dan bertanya, “Maukan kau pergi denganku?
Sebentar saja”. Jantungku berdegup kencang. Mau dibawa kemana? Apa aku sebentar
lagi akan mati? Tapi aku tak ingin pergi sekarang. Seperti mengetahui apa yang
kupikirkan, orang itu berkata lagi, “Tidak, kamu masih tetap disini nanti, aku
hanya akan mengajakmu berkeliling” “Baiklah, kalau begitu. Mau kemana kita?”
.Ia tak menjawab dan akhirnya aku mengikutinya. Lorong di dekat kamarku menjadi
semakin terang. Ternyata orang itu membawaku ke sebuah tempat dimana semua
benda langit berkumpul. Aku mencari Mendung, dimanakah ia? Ada Awan,Hujan, ada
kumpulan Cahaya Mentari yang waktu itu juga berbincang dengan Mendung, dan ada
Bintang. Mereka begitu indah, namun Mendung tak ada. Aku sedikit kecewa. Kemudian,
orang itu mengajakku mengarungi angkasa. Indah sekali dari dari atas sini. Aku
bisa melihat gunung, laut, dan samudra. Kemudian kami terbang rendah ke suatu
wilayah.Sepertinya aku mengenal tempat ini. Ya, ini di dekat rumahku. Aku
melihat ada kepulan asap hitam dari dalam sana. Dan tiba-tiba kobaran api
menyala. Aku panik, aku hampir saja meluncur turun kesana. Namun orang itu
mencegahku. “Terlalu berbahaya” ,katanya. “Tapi keluargaku ada di dalam sana!
Aku harus menolong mereka, atau bisakah kau memanggil hujan? Tolonglah!” Mataku
mulai berkaca-kaca. Tapi ia hanya diam disana. Aku langsung meluncur ke bawah
dan ia tak lagi bisa mencegahku. Aku melesat secepat yang aku bisa.
Lalu
aku terbangun. Ini hanya mimpi. Aneh sekali. Siapa laki-laki itu? Ia hanya
sedikit bicara. Dan aku kembali ingat, rumahku kebakaran! Aku langsung turun
dari tempat tidur, aku hilang keseimbangan dan terjatuh. Aku berusaha sebisaku
untuk kembali berdiri namun tak bisa. Bodoh! Kenapa aku selemah ini? Aku marah
pada diriku ketika kemudian tanteku berlari masuk ke dalam kamar. “Apa yang
kamu lakukan? Kamu mau kemana?”. Aku hanya termenung, lupa semua yang terjadi.
Tanteku membopongku kembali ke tempat tidur dan aku masih diam.
Pintu
kamarku terbuka. Ternyata Andre, kakak sepupuku yang datang. Bukankah tadi?
Bagaimana dengan rumah? “Hei, bagaimana keadaanmu hari ini?” “Seperti yang kau
lihat, darimana kau?” “Aku baru saja selesai sarapan di rumah, yang lainnya
sedang sarapan dan harusnya kau ikut bersama kami hahaha”. Sarapan? Aku semakin
bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? “Apakah rumah baik-baik saja?” “Ya,
seperti biasanya”. Kebingunganku ini semakin berakar setelah ia berkata begitu.
Hari
ini aku diperbolehkan pulang ke rumah. Cuacanya cerah dan aku sedikit kecewa.
Dimanakah Mendung? Ia tak terlihat sejak mimpi itu datang. Aku merindukannya.
Dua hari yang kulalui setelah itu selalu cerah. Saat pagi datang , aku mencoba
bertanya pada kumpulan Cahaya Mentari tentang keberadaan Mendung tersebut. “Ia
adalah awan yang paling hebat yang pernah kami kenal, saat ini ia sedang
mencapai hujannya makanya tak terlihat. Ia menyuruh kami menggantikannya
sementara di musim ini. Jangan khawatir, ia pasti kembali”. Mencapai hujannya?
Apa maksudnya? Dan aku kembali teringat pada laki-laki asing itu. Aku juga tak
melihatnya lagi setelah mimpi itu berakhir.
Satu
bulan berlalu dengan cepat. Tak terasa obat-obatan yang harus kuminum juga
sudah habis. Artinya sekarang aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau tanpa
merasa sakit lagi. Tetapi pantangan untuk bermain hujan-hujanan masih berlaku
padaku dan itu menyebalkan. Ketika malam datang, aku naik ke atap rumahku.
Tempat itu memang terbuka untuk melihat langit. Pamanku yang membuatkannya
untukku. Malam ini semua bintang dapat kulihat dengan jelas. Gugusan Sirius,
Orion dengan jelas kuterawang dengan teleskop peninggalan kakekku. Tiba-tiba
suara gemuruh terdengar. Akankah hujan turun? Apa ini artinya Mendung telah
kembali? Aku merasakan secercah harapan untuk bertemu Mendung hari ini. Udaranya
panas, berarti Hujan tak turun dan itu artinya hanya Mendung yang datang. Benar
saja, cahaya bintang mulai tersamarkan dan aku menunggu sesaat. “Kemana kamu
selama ini? Bukankah kau harusnya datang setiap hari?” Mendung tak menjawab
,kemudian ia menghilang. Apa-apaan ini? Aku sangat merindukanmu dan kamu hanya
datang sesaat? Kulihat lagi sesosok laki-laki di ujung atap. Laki-laki yang
sama dalam mimpiku. Mengapa ia selalu datang saat mendung tak ada? Lagi-lagi ia
mendekat dan aku makin bingung dengan semua ini. Makin dekat denganku , ia
memandang wajahku lekat-lekat. Matanya berwarna biru,sangat indah dan menawan.
Aku jadi teringat kutipan puisi seorang
penyair terkenal,
‘Selapis
kelopak mata membatasi aku dan engkau, Setiap napas mendekatkan sekaligus
menjauhkan kita, Kau membuatku putus asa dan mencinta pada saat yang sama’
.
Ia
membuyarkan lamunanku “Masa kau tak mengenalku? Kita selalu berbicara berdua”
sahutnya. “ Siapa kamu? Kita tak pernah bertemu sebelumnya, bagaimana bisa aku
mengenalmu dan begitu dekat?” “ Kau tak
tahu?” Aku menggeleng. “ Lalu bagaimana tentang orang-orang yang meratap saat
hujan? Dan tentang sebuah kedatangan yang kelam? Tidakkah kamu ingat semua
itu?” Mataku membulat. Aku tersontak kaget “ Mendung? Tapi, bagaimana bisa?
Bagaimana dengan Langit, Hujan, dan juga kumpulan cahaya itu?” “Mereka semua
adalah sahabatku, bukankah mereka telah mengatakan suatu hal tentang mencapai Hujan?
Dan disinilah aku, bersamamu sekarang”. “Kau akan disini selamanya?” Mendung
terdiam. “Aku belum menjawab pertanyaanmu itu, mengapa saat Mendung datang
semuanya menjadi kelam? Semua orang berpikir sesuatu yang berbeda ketika awan
menjadi kelabu. Mereka terbiasa akan sesuatu yang terang dan cerah. Kelabu
adalah sesuatu yang tak sama dan itu membuat mereka menjadi kelam”. “Kau tak
menjawab pertanyaanku barusan, apakah kau akan tetap disini?” “Tidak. Aku akan
bersamamu sepanjang malam ini. Tetapi, mulai besok kau akan melihatku sebagai
Mendung yang sesungguhnya. Kelam dan penuh perenungan bagi setiap orang” “Tapi
kenapa? Kamu terlalu indah , Mendung. Jangan pergi, tolong” Suaraku mulai
parau, aku bahagia, sangat bahagia malam ini. Tetapi mengapa hal seindah ini
harus berakhir secepat ini. “Sesuatu
yang paling indah memang tak pernah datang untuk yang kedua kalinya,
sayang”.Aku terdiam. Satu kecupan mendarat di bibirku, tak sadar air mataku
ikut menetes. Menangisi keindahan yang memang akan berakhir ini. “Aku juga tak
ingin pergi.Bersamamu adalah hal yang paling indah sepanjang hidupku. Aku tak
akan melupakanmu meskipun aku kembali jadi Sang Kelabu diatas sana”. Hujan di
pelupuk mataku semakin deras mengalir seraya aku memeluk Mendung dengan erat.
Ku tak ingin melepaskannya. Aku ingin bersamanya, tapi itu tak mungkin. Dan
malam itu, kami menghabiskan waktu bersama memandang para Sahabat yang bersinar
malam itu. Bintang dan bulan. Aku terbaring dalam rengkuhannya.
Keesokan
paginya, aku terbangun. Ternyata diriku masih ada di atas atap, namun Mendung
telah pergi. Ia memang akan pergi. Rasa sepi kembali menggerogoti hatiku. Hampa
seperti ini memang tidak menyenangkan. Mataku memandang langit untuk kesekian
kalinya. Matahari belum menampakkan diri. Mendung ada disana. Ia menungguku
terbangun. Aku memejamkan mataku dan tersenyum. Tak lama setelah itu, sepupuku
datang dan membawakan sarapan. “Terima kasih” ujarku. Lalu ia berkata, “Kamu
tak perlu menunggu Hujan untuk melihat Mendung. Aku membuat sesuatu di
kamarmu”. Andre mengajakku turun segera setelah selesai sarapan. Ratusan stiker
benda langit yang bisa berpendar dalam gelap! Aku berdecak kagum. “Terima
kasih, Andre!”. Sekarang aku tahu Mendung akan selalu bersamaku. Sesuai namaku,
Raina, Rain yang berarti Hujan. Takkan ada Hujan apabila tak ada Mendung. Tak
akan lagi ratapan dan ingatan masa lalu saat hujan turun. Yang perlu kau
lakukan hanyalah menikmati Hujanmu.
The
End




